Klaten, Jawa Tengah – Di sebuah jalan desa yang ramai dilalui kendaraan, tepatnya di Jl. Raya Manisrenggo–Prambanan Dengok Kulon No.km 3, Kebondalem Lor, Prambanan, Klaten, berdiri sebuah warung sederhana bernama Mie Ayam Pak Suro. Warung ini belakangan jadi buah bibir masyarakat karena menjual mie ayam bakso dengan harga yang tak masuk akal: Rp4.000 per porsi.
Di tengah kondisi ekonomi yang serba mahal, harga ini membuat banyak orang terperangah. Tak sedikit yang bertanya-tanya, apakah Simbah Pak Suro benar-benar berjualan, atau justru sedang bersedekah lewat dagangannya.
Warung kecil dengan kursi kayu dan meja panjang itu selalu dipenuhi pembeli. Dari anak sekolah, pekerja, hingga warga sekitar, semua rela antre demi semangkuk mie ayam bakso murah meriah. Simbah Pak Suro, dengan senyum ramahnya, melayani satu per satu pelanggan tanpa terlihat lelah.
“Kalau dihitung-hitung, pasti rugi. Tapi mungkin Simbah lebih senang lihat orang makan kenyang,” ujar seorang pelanggan yang rutin datang. Bagi warga, harga Rp4.000 bukan sekadar murah, melainkan simbol kepedulian. Semangkuk mie ayam bakso di warung ini dianggap sebagai bentuk sedekah kuliner, di mana setiap suapan mengandung ketulusan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dagang tidak selalu soal untung rugi. Ada nilai sosial yang lebih besar: berbagi rezeki dengan cara sederhana. Di tengah mahalnya harga pangan, keberadaan warung Simbah Pak Suro menjadi pengingat bahwa masih ada orang yang memilih memberi, bukan sekadar mengambil.
Warung mie ayam Rp4.000 ini bukan hanya tempat makan, melainkan juga cerita tentang ketulusan, solidaritas, dan rasa syukur. Sebuah kisah human interest yang menghangatkan hati, lahir dari sebuah warung kecil di Klaten.
