Yogyakarta – Di tengah mahalnya harga makanan di kota pelajar, sebuah angkringan sederhana di kawasan Janti menjadi buah bibir masyarakat. Namanya Angkringan Tentrem Kang Doel, dikelola oleh sepasang suami istri yang dikenal ramah dan penuh welas asih.
Warung ini menawarkan menu dengan harga yang membuat banyak orang terperangah: gorengan hanya Rp500 dan nasi sop Rp3.000. Murahnya bukan main, hingga muncul pertanyaan dari warga dan mahasiswa: “Ibu dan Bapak Kang Doel ini niat jualan atau sedekah?”
Setiap malam, angkringan kecil dengan lampu temaram itu dipenuhi mahasiswa dan anak kos. Mereka datang berbondong-bondong, terutama di akhir bulan ketika isi dompet semakin menipis. Di saat pilihan makanan lain terasa berat di kantong, Angkringan Tentrem hadir sebagai penyelamat. Sepiring nasi sop hangat berpadu dengan gorengan sederhana, cukup untuk mengenyangkan perut tanpa membuat kantong jebol.
Suasana di angkringan ini bukan sekadar tentang makan murah. Ibu dan Bapak Kang Doel selalu menyapa pelanggan dengan senyum, menciptakan rasa kekeluargaan yang membuat mahasiswa merasa seperti pulang ke rumah. “Kalau nggak ada angkringan ini, mungkin saya cuma minum teh di kos. Nasi sop Rp3.000 bikin kenyang,” ujar seorang mahasiswa sambil tertawa. Yang lain menimpali, “Gorengan Rp500 itu rasanya kayak sedekah. Mana ada harga segitu di Jogja.”
Fenomena ini menunjukkan bahwa berdagang tidak selalu soal untung rugi. Ada nilai sosial yang lebih besar: berbagi rezeki lewat dagangan sederhana. Di tengah mahalnya biaya hidup, Angkringan Tentrem Kang Doel bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang solidaritas yang mengajarkan arti kepedulian.
Semangkuk nasi sop dan sepotong gorengan murah meriah di Janti bukan hanya mengenyangkan, tapi juga menghangatkan hati. Sebuah kisah human interest yang lahir dari kota pelajar Yogyakarta, tentang ketulusan, solidaritas, dan rasa syukur yang dibungkus dalam sebuah angkringan sederhana.
